Selasa, 28 April 2015


Dahulu, saat teknologi belum dikenal oleh masyarakat umum secara luas, setiap penyakit yang diderita oleh manusia seringkali dikait-kaitkan dengan hal-hal yang berbau spiritual dan gaib, seperti contohnya penyakit tersebut dikaitkan dengan gangguan dari makhluk/roh halus atau “dikirim” dari orang lain. Oleh karena itu, saat itu masyarakat yang sakit lebih memilih berobat ke dukun atau orang pintar yang dianggap mampu berkomunikasi langsung dengan makhluk halus daripada berobat ke tabib yang tentunya lebih mengerti tentang jenis penyakit berdasarkan ilmu pengobatan/medis.
Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, diagnosa suatu penyakit dapat dilakukan dengan metode yang lebih canggih, manusia pun juga dapat melakukan pemberian obat-obatan sesuai dengan penyakit yang diderita. Penyebab penyakit manusia juga dapat dideteksi dengan baik. Tidak semua penyakit diakibatkan oleh virus dan bakteri, namun juga dapat bersumber pada kejiwaan manusia.
Sejak awal abad-19 dapat dikatakan bahwa para ahli kedokteran mulai menyadari akan adanya hubungan antara penyakit dengan kondisi psikis atau kejiwaaan manusia. Hubungan timbal balik ini menyebabkan manusia dapat menderita gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan mental (somapsikotis) dan sebaliknya, gangguan mental juga dapat menyebabkan penyakit fisik (psikosomatik). Dan diantara faktor-faktor mental yang diidentifikasikan sebagai faktor yang berpotensi dapat menimbulkan gejala-gejala dari gangguan tersebut adalah keyakinan agam. Hal ini, antara lain disebabkan karena sebagian besar ahli kedokteran melihat bahwa penyakit mental (mental illness) sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyembuhan secara medis, namun, penderita penyakit mental dapat juga disembuhkan dengan menggunakan pendekatan agama.
Psikologi agama adalah salah satu bukti adanya perhatian khusus para ahli psikologi terhadap peran agama dalam kehidupan serta kejiwaan manusia. Pendapat yang paling ekstrem tentang hal tersebut masih menunjukkan betapa agama sudah dinilai sebagai suatu bagian dari kehidupan pribadi manusia yang sangat erat kaitannya dengan gejala-gejala psikologis. Dalam beberapa bukunya, bapak psikoanalisa Sigmund Freud, yang dikenal sebagai pengembang psikoanalisis mencoba mengungkapkan hal itu. Agama menurut Freud tampak pada perilaku manusia sebagai suatu simbolisasi dari kebencian terhadap ayah yang direfleksikan dalam bentuk rasa takut kepada Tuhan.
Lain halnya dengan salah satu penganut behaviorisme, Skinner, melihat agama sebagai isme sosial yang lahir dari dua faktor penguat. Menurutnya, kegiatan-kegiatan keagamaan menjadi faktor penguat sebagai perilaku yang meredakan ketegangan. Lembaga-lembaga sosial termasuk lembaga keagamaan, bertugas menjaga dan mempertahankan perilaku atau kebiasaan bagi masyarakat. Manusia menanggapi tuntutan yang terkandung dalam lembaga itu dan ikut melestarikan dengan melalui cara mengikuti aturan-aturan yang telah baku.
Perilaku keagamaan menurut pandangan behaviorisme erat kaitannya dengan prinsip reinforcement (reward and punishment). Manusia berperilaku religius karena didorong oleh rangsangan hukuman dan hadiah (pahala). Manusia hanyalah sebuah robot yang bergerak secara mekanis menurut pemberian hukuman dan hadiah tersebut.
Gangguan mental dapat didefinisikan sebagai perilaku abnormal atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat, perilaku tersebut baik yang berupa pikiran, perasaan maupun tindakan. Stress, depresi dan alkoholik tergolong sebagai gangguan mental karena adanya penyimpangan, hal ini dapat disimpulkan bahwa gangguan mental memiliki titik kunci yaitu menurunnya fungsi mental dan berpengaruhnya pada ketidak wajaran dalam berperilaku.
Adapun gangguan mental yang dijelaskan oleh A. Scott, meliputi beberapa hal :
1.  Salah dalam penyesuaian/adaptasi sosial. Manusia yang mengalami gangguan mental, perilakunya bertentangan dengan kelompok dimana dia berada.
2.      Ketidakbahagiaan secara subyektif.
3.      Kegagalan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
4.      Sebagian penderita gangguan mental menerima pengobatan psikiatris di rumah sakit, namun ada sebagian yang tidak dapat mendapatkan pengobatan tersebut.
Mahmud Abd Al-Qadir, seorang ulama ahli biokimia, memberikan bukti adanya hubungan antara keyakinan agama dengan kesehatan mental. Pengobatan penyakit batin melalui bantuan agama telah banyak dipraktikkan oleh manusia. Dengan adanya sebuah gerakan yang bertajuk Christian Science, kenyataan itu diperkuat juga oleh pengakuan ilmiah. Dalam gerakan ini, dilakukan suatu pengobatan pasien melalui kerja sama antar dokter, psikiater, dan ahli agama (pendeta). Dalam gerakan tersebut sangat nampak nilai serta manfaat dari ilmu agama terhadap kesehatan mental. Sejak abad ketujuh hijriyah, Ibn Al-Qayyim Al-Jauzi (691-751) pernah mengemukakan hal tersebut. Menurut beliau, dokter yang tidak dapat memberikan pengobatan pasien tanpa memeriksa kondisi kejiwaannya serta tidak dapat memberikan pengobatan dengan berdasarkan perbuatan amal saleh, menghubungkan diri dengan Allah dan mengingat akan hari kiamat, maka dokter tersebut bukanlah dokter dalam arti sebenarnya. Ia pada dasarnya hanyalah merupakan seorang calon dokter yang picik.
Barangkali hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan mental, terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Esa. Sikap pasrah yang seruapa itu diduga akan memberikan sikap optimis pada diri seseorang sehingga akan muncul perasaan positif, seperti rasa bahagia, rasa senang, puas, kesuksesan, merasa dicintai, atau bahkan rasa aman. Dengan kata lain, kondisi tersebut menjadikan manusia pada kondisi kodratnya, sesuai dengan fitrahnya, yaitu sehat jasmani dan rohani.
Solusi terbaik untuk dapat mengatasi masalah-masalah dalam kesehatan mental dengan baik adalah dengan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Kesehatan mental seseorang dapat ditandai dengan kemampuan orang tersebut dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, mampu mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sendiri semaksimal mungkin untuk menggapai ridho dari Tuhan, serta dengan mengembangkan seluruh aspek kecerdasan, baik kesehatan spiritual, emosi maupun kecerdasan intelektual.

Daftar pustaka :
Hawari, Dadang. 1995. Al-Quran : Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta : Dana Bhakti Prima Jasa.
Sururin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Casmini dkk. 2006. Jurnal Kesehatan Mental. Jakarta: UIN SUKA

Child abuse secara harfiah dapat diartikan sebagai perlakuan yang salah terhadap anak. Child abuse didefinisikan sebagai perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983). Child abuse juga dapat didefinisikan sebagai tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill, 1973). Menurut U.S Department of Health, Education & Wolfare, definisi dari child abuse adalah kekerasan fisik atau mental, kekerasan seksual dan penelantaran terhadap anak dibawah usia 18 tahun yang dilakukan oleh pria yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, sehingga keselamatan & kesejahteraan anak terancam.
Child abuse memiliki 4 bentuk, yaitu :
1.      Physical abuse
Dapat diartikan sebagai penganiayaan fisik. Physical abuse memiliki beberapa tingkatan, mulai dari non-accidental “injury” mulai dari ringan sampai pada trauma neurologik yang berat hingga kematian. Contohnya seperti cedera fisik akibat hukuman fisik yang di luar batas, kekejaman atau pemberian racun.
2.      Emotional abuse
Perlakuan yang ditandai dengan kecaman atau kata-kata yang merendahkan anak, mengisolasi anak, hingga tidak mengakui sebagai anak atau menolak dan mengabaikan anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti dengan bentuk penganiayaan lain. Hal tersebut akan membuat anak merasa dirinya tidak dicintai, dan tidak berharga. Hal tersebub akan berakibat pada kerusakan mental, emosional, hingga sosial anak.
3.      Neglect (penelantaran)
Tindakan orangtua yang dapat menyebabkan efek merusak kondisi fisik anak dan perkembangan psikologisnya. Kelalaian dapat berupa pemeliharaan dan pengawasan yang kurang memadai, mengabaikan pendidikan anak, lalai dalam merawat serta memberikan fasilitas anak dengan baik.
4.      Sexual abuse
Penganiayaan seksual pada anak yaitu paksaan pada anak untuk berperilaku/bertindak dalam kegiatan seksual yang nyata, seperti aktivitas seksual (oral genital, genital,anal) termasuk incest, mengambil foto pornografi anak dan aktivitas seksual lainnya.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan anak mengalami kekerasan baik itu secara fisik maupun mental, diantaranya :
1.      Stress pada anak yang dapat diakibatkan oleh perbedaan fisik atau kelainan fisik, perbedaan mental atau cacat/kelainan mental, temperamen dan tingkah laku yang berbeda, serta status dalam keluarga (anak angkat).
2.      Stress pada keluarga yang dilatarbelakangi oleh perceraian, anak yang tidak diharapkan, tingkat ekonomi dan pengangguran, serta mobilitas, isolasi, dan perumahan yang tidak memadai.
3.      Stress pada orangtua yang dapat disebabkan oleh perlakuan masa kecil yang salah dan harapan dari orangtua tersebut yang tidak terpenuhi.

Daftar pustaka :
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Shaffer, D. R. 1995. Developmental Psychology Childhood and Adolescence (5th ed.). Pacific Groove: Brooks/Cole Publishing Company
Paramastri, Ira. 2001. Empowering Community To Contribute On Primary Preventionx Of Child Sexual Abuse (Csa) Towards Children Well-Being. Jurnal Psikologi. Yogyakarta: UGM

Jumat, 20 Maret 2015

1. Sejarah Kesehatan Mental
Secara etimologis, kata "mental" berasal dari bahasa latin, yaitu "mens" atau "mentis" yang artinya adalah roh, sukma, jiwa, atau nyawa. Dalam bahasa Yunani, kesehatan terkandung dalam kata hygiene, yang berarti ilmu kesehatan. Oleh karena itu, kesehatan mental merupakan bagian dari hygiene mental (ilmu kesehatan mental) (Yusak Burhanuddin, 1999: 9).
Kesehatan mental (mental hygiens) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani (M. Buchori dalam Jalaluddin,2004: 154). Menurut H.C. Witherington, kesehatan mental meliputi pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat lapangan Psikologi, kedokteran, Psikiatri, Biologi, Sosiologi, dan Agama (M. Buchori dalam Jalaluddin, 2004: 154).
Sama halnya dengan psikologi yang mempelajari tentang hidup kejiwaan manusia, dan telah berusia sejak hadirnya manusia di dunia, maka masalah kesehatan jiwa telah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu dalam bentuk pengetahuan yang sederhana.
Beratus-ratus tahun yang lalu, manusia menduga bahwa penyebab dari penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu, para penderita penyakit mental kerap dimasukkan ke dalam penjara-penjara bawah tanah atau dihukum serta diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, perlahan telah muncul usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang mengidap gangguan mental. Philippe Pinel asal Perancis dan William Tuke asal Inggris, Britania Raya adalah salah satu contoh orang yang telah berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit gangguan mental. Era Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra-ilmiah. Hal tersebut dikarenakan mereka hanya melakukan usaha dan praksis tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.
Era selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental mulai dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita asal Amerika dalam usaha-usaha kemanusiaan. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.
Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah mengidap sakit mental dan dirawat selama dua tahun di beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Seringkali, Ia didera dengan pukulan-pukulan serta jotosan-jotosan. Ia juga menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan masih banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi-kemanusiaan dialami Whittingham ketika berada di rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers akhirnya bisa sembuh.
Dalam bukunya yang berjudul "A Mind That Found Itself", Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi-kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental dapat dicegah. Bahkan, pada banyak peristiwa penyakit tersebut dapat disembuhkan pula. Oleh karena keyakinan ini, Beers kemudian menyusun sebuah program nasional, yang berisi :
  • Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
  • Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
  • Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
  • Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
Psikolog besar William James dan Adolf Meyer sangat terkesan oleh uraian dari Beers tersebut. Maka, akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai sebuah gerakan kemanusiaan yang baru. Kemudian, pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Selanjutnya, pada tanggal 19 Februari 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri berdiri sebagai sekretaris di dalamnya hingga akhir hayatnya.
Organisasi tersebut bertujuan :
  • Melindungi kesehatan mental masyarakat.
  • Menyusun standar perawatan terhadap para pengidap gangguan mental.
  • Meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagai aspek yang terkait dengannya.
  • Menyebarkan pengetahuan tentang kasus gangguan mental, pencegahan dan pengobatannya
  • Mengkoordinasikan lembaga-lembaga perawatan yang ada.
Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan pengukuhan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani "The National Mental Health Act". Dokumen ini merupakan bluprint yang komprehensif, yang berisi program-program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.
Gerakan kesehatan mental ini terus berkembang, sehingga pada tahun 1075 di Amerika Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The World Health Organization”.

2. Konsep Sehat
Kata "sehat" merupakan serapan dari bahasa Arab yaitu "ash-shihhah" yang berarti sembuh, sehat, selamat dari cela, nyata, benar, dan sesuai dengan kenyataan. Kata sehat dapat diartikan pula sebagai : (1) dalam keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit), waras, (2) mendatangkan kebaikan pada badan, serta (3) sembuh dari sakit.
Dalam bahasa Arab terdapat sinonim atau persamaan kata dari kata "ash-shihhah" yaitu "al-'afiah" yang berarti "ash-shihhah at-tammah"  atau sehat yang sempurna. Kata "ash-shihhah" dan "al-'afiah" tersebut  sering digabungkan menjadi satu kata yaitu "ash-shihhah wa al-’afiah", yang dalam bahasa Indonesia menjadi "sehat wal-afiat" atau artinya sehat secara sempurna.
Kata sehat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu keadaan/ kondisi seluruh badan serta bagian-bagiannya terbebas dari sakit. Mengacu pada Undang-Undang (UU) Kesehatan No. 23 tahun 1992, sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan seseorang dapat hidup secara sosial dan ekonomis. Mengenai konsep "sehat", World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu "keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat". Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat, namun juga orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Orang tersebut semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.
Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatu keadaan ideal, dari sisi biologis, psikologis, dan sosial sehingga seseorang dapat melakukan aktifitas secara optimal. Definisi sehat yang dikemukakan oleh WHO mengandung 3 karakteristik yaitu :
  • Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia.
  • Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan ektersnal.
  • Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif.
  • Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi merupakan penyesuaian, dan bukan merupakan suatu keadaan tetapi merupakan proses dan yang dimaksud dengan proses disini adalah adaptasi individu yang tidak hanya terhadap fisik mereka tetapi terhadap lingkungan sosialnya.
Jadi, dapat dikatakan bahwa batasan sehat menurut WHO meliputi fisik, mental, dan sosial, sedangkan batasan sehat menurut Undang-Undang (UU) Kesehatan meliputi fisik (badan), mental (jiwa), sosial dan ekonomi. Sehat fisik  yang dimaksud disini adalah tidak merasa sakit dan memang secara klinis tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi normal dan tidak ada gangguan fungsi tubuh. Sehat mental (jiwa), mencakup :
  • Sehat Pikiran tercermin dari cara berpikir seseorang yakni mampu berpikir secara logis (masuk akal) atau berpikir runtut
  • Sehat Spiritual tercerimin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, atau penyembahan terhadap pencinta alam dan seisinya yang dapat dilihat dari praktek keagamaan dan kepercayaannya serta perbuatan baik yang sesuai dengan norma-norma masyarakat.
  • Sehat Emosional tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya atau pengendalian diri yang baik.
  • Sehat Sosial adalah kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain secara baik atau mampu berinteraksi dengan orang atau kelompok lain tanpa membeda-bedakan ras, suku, agama, atau kepercayaan, status sosial, ekonomi, politik.
  • Sehat dari aspek ekonomi yaitu mempunyai pekerjaan atau menghasilkan secara ekonomi. Untuk anak dan remaja ataupun bagi yang sudah tidak bekerja maka sehat dari aspek ekonomi adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk berlaku produktif secara sosial.
3. Perbedaan Konsep Kesehatan Mental Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut. 
Model kesehatan barat dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Model Biomedis (Freund, 1991) memiliki 5 asumsi :
  • Terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu.
  • Penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis.
  • Setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi.
  • Melihat tubuh sebagai suatu mesin.
  • Konsep tubuh adalah objek yang perlu diatur dan dikontrol. 
2. Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan  treatment fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.
3. Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional atau sosial. Sebaliknya, tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.
Model kesehatan timur umumnya disebut sebagai model kesehatan holistik (Joesoef, 1990) yang lebih menekankan pada keseimbangan (Helman, 1990). Perawat menggunakan model kesehatan holistik untuk membantu dalam pemulihan klien menyertakan terapi relaksasi, terapi musik, sentuhan terapeaotik dan imajinasi. Perawat menggunakannya secara ekslusif atau berdampingan dengan pengobatan konvensional.

Referensi pustaka :
Whitbourne, Halgin. 2010. Psikologi Abnormal. Jakarta : Salemba Humanika
Kholil Rochman Lur. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto : Fajar Media Press
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta : Kanisius.
http://www.psychoshare.com/file-243/psikologi-klinis/sejarah-pergerakan-kesehatan-mental.html (diakses 19 Maret 2015).
http://www.uin-alauddin.ac.id/artikel-79-konsep-sehat-dan-sakit.html (diakses 19 Maret 2015).
 

Rabu, 21 Mei 2014

Nama    : Al Arthur Tito Kusuma Vahistha
NPM      : 10513564
Kelas     : 1PA06

Iptek dan Perkembangannya
                Ilmu pengetahuan dan teknologi atau biasa disingkat IPTEK merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan atau bahkan dikesampingkan. IPTEK merupakan unsur penting dari kehidupan dan kesejahteraan manusia. Ilmu pengetahuan adalah sebagai akar bagi teknologi, dan teknologi adalah akar dari sebuah pembangunan. Sejak dahulu, teknologi sudah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Dan tentu saja, seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya daya akal dan pikiran manusia, teknologi pun juga akan ikut berkembang. Perkembangan teknologi adalah sesuata hal yang memang tak dapat dihindari karena perkembangan teknologi pastinya akan berjalan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan.
                Perkembangan IPTEK disebabkan oleh adanya inovasi. Inovasi pasti diciptakan untuk memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia. Memberi banyak kemudahan, praktis, efisien, dan cara baru dalam beraktifitas. Contohnya, apabila dahulu manusia menggunakan teknologi sederhana seperti memecahkan kemiri dengan batu, sekarang manusia sudah berinovasi dengan adanya blender. Namun, tetap saja pasti perkembangan IPTEK tersebut memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya seperti produksi pangan yang lebih cepat dan modern, produktifitas industri meningkat, serta perkembangan transportasi dan komunikasi yang pesat, sedangkan dampak negatifnya adalah kerusakan ekosistem, meningkatnya pengangguran hingga kemacetan lalu lintas.
                Dampak-dampak tersebut memang tidak dapat dihindari, namun bisa diminamilisir. Sebagai manusia pasti kita menginginkan segala sesuatunya bersifat praktis. Namun alangkah lebih baik apabila kita tidak terlalu bersifat konsumtif sehingga dapat berdampak negatif pula bagi kehidupan. Manusia bebas berinovasi namun harus disertai dengan pemikiran jangka panjang. Apalagi di zaman sekarang sumber daya terutama sumber daya alam semakin menipis ketersediannya karena perkembangan IPTEK yang tidak didasari oleh pemikiran jangka panjang akan dampak negatif di kemudian hari. Perkembangan IPTEK harus disikapi dengan bijak agar tidak berpengaruh buruk bagi masa depan kita.

Referensi :
aditnanda.wordpress.com/2011/11/18/pertumbuhan-dan-perkembangan-iptek/
asharryblogmedia.wordpress.com/tugas-aplinet/perkembangan-iptek-beserta-dampak-positif-dan-negatifnya/
www.iptek.net.id/ind/?mnu=4&ch=wisata&id=20

Rabu, 30 April 2014

      Pernahkah terpikirkan oleh Anda bagaimana asal mula kehidupan di Bumi ini? Sebagai makhluk hidup penghuni bumi yang berakal kita pasti akan bertanya-tanya bagaimana awal mula terbentuknya kehidupan di Bumi. Para ahli juga berpendapat bahwa apabila manusia menginginkan planet lain untuk ditinggali seperti Bumi, maka manusia harus mengetahui bagaimana awal mula terciptanya kehidupan di Bumi. Mike Russell, peneliti Jet Propulsion Laboratory National Aeronautics and Space Administration (NASA) dalam tiga makalah yang ikut ditulisnya, memaparkan bahwa kehidupan bermula dari ventilasi hidrotermal di dasar laut. Ia menuturkan bahwa cairan alkali di ventilasi hidrotermal, yang mengandung hidrogen dan metana berinteraksi dengan air laut purba yang mengandung karbondioksida sehingga menghasilkan asetat yang kemudian  berkembang  menjadi basis kehidupan.

    Sejalan dengan Russell, seorang ilmuwan asal India bernama Sankar Chatterjee, yang merupakan profesor geografi dan dan kurator paleontologi di Museum of Texas Tech University, AS mengklaim bahwa meteor dan komet adalah pembawa material yang menciptakan kehidupan di Bumi. “Pada empat miliar tahun yang lalu, komet dan meteor secara reguler menabrak Bumi, sehingga menciptakan kawah besar berisi air dan dasar kimia untuk kehidupan,” tuturnya. Ia juga menuturkan bahwa ketika Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, lingkungannya sama sekali tidak ramah bagi organisme hidup. Namun, satu miliar tahun kemudian permukaannya dipenuhi air dan muncul kehidupan bagi mikroba. Chatterjee juga menguraikan bahwa kehidupan di Bumi ditentukan oleh 4 faktor : kosmik, geologi, kimia, dan biologi.

     Dari hasil penelitian dari kedua ilmuwan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa asal mula kehidupan di Bumi berawal dari reaksi kimia yang mengakibatkan terciptanya organisme hidup.  Air juga merupakan material yang menjadi faktor penting terpeliharanya organisme hidup tersebut. Hal tersebut memang masih belum terbukti secara akurat kebenarannya dan masih terus diteliti kembali hingga saat ini, namun kita sebagai manusia yang menjadi “penghuni” Bumi harus meyakini bahwa terciptanya kehidupan di Bumi adalah kuasa dari Tuhan. Tanpa ada kehendak-Nya maka kehidupan di Bumi tidak akan tercipta. Tugas kita sebagai manusia adalah memelihara Bumi agar kehidupan didalamnya tetap lestari. 


Referensi :
Narwastu, Dyah Arum. (2013, 1 Agustus). Bagaimana Sebenarnya Kehidupan di Bumi Bermula?. Diperoleh 25 April 2014, dari http://sains.kompas.com/read/2013/08/01/1625020/bagaimana.sebenatnya.kehidupan.di.bumi.bernula.
Viva News. (2013, 7 November). Ini Asal-usul Kehidupan di Bumi Versi Ilmuwan India. Diperoleh 25 April 2014, dari http://us.m.news.viva.co.id/news/read/456611-ini-asal-usul-kehidupan-di-bumi-versi-ilmuwan-india